Sepenggal Kisah Impian Ingin Kuliah Di Kota Nabi yang Belum Terwujud

0
516

Islamic University Of Madina Kota Nabi

Bang Tohir Notes – Hari itu merupakan kenangan yang sampai hari ini belum bisa terlupakan, setelah bahagia mendengar kabar kalau semua angkatan kelasku lulus ujian nasional, kami semua segera mempersiapkan diri untuk mengumpulkan semua berkas yang akan digunakan untuk mendaftar mengikuti tes beasiswa kuliah di Islamic University of madinah, sampai beberapa malam bergadangdemi melangkapi semua persyaratan yang dibutuhkan.

kejadian yang sangat konyol ketika sudah tengah malam dimana jam menunjukan pukul dua pagi haus mengetuk pintu rumah salah satu ustadz untuk meminta tanda tangan rekomendasi, sudah terpikirkan lagi apakah itu benar atau salah mengganggu ketengan Pak ustadz istirahat tidur. sempat mendapatkan nasehat teguran halus kalau apa yang kami lakukan adalah adab yang tidak terpuji, tapi apalah daya semangat untuk bisa ikut tes sudah sangat membara sehingga apa yang dilakukan tidak berpikir panjang terlebih dahulu. Maafkan santrimu ini pak ustadz yang sudah bandel sekali.

***

bermodalkan semangat dan tekat yang bulat semua teman – teman yang sudah lebih dulu melengkapi semua berkas pendaftaran yang juga sudah dikirimkan secara online, mereka semua berangkat beramai – ramai, tapi aku… yah aku harus menunda keberangkatanku, karena berkas masih belum lengkap dan juga belum semunya diterjemahkan kedalam bahasa arab. apalagi harus pulang terlebih dahulu ke kampung halaman di kalimantan Barat untuk mendapatkan SKCK dari pihak kepolisian daerah asal.

Sepat terpikir untuk mengurungkan niat tidak mengikuti tes tahun itu, karena tidak ada teman lagi yang diajak berangkat bareng ke Pondok pesantren Gontor Ponorogo, dimana Tes yang langsung berhadapan dengan para penguji dosen utusan dari Universitas Islam Madinah diadakan disana.

Aku yang tidak bisa sendiri kesana karena belum tahu jalur dan naik apa ke Pesantren Gontor, keajaiban Allah pun datang disaat kebingunagan melanda hati waktu itu,setelah mencoba merayu salah satu teman yang sejak awal tidak pernah berniat untuk ikut tes dan melanjutkan kuliah kesana karena sudah terlanjur lulus tes masuk dan mendapatkan beasiswa di Universitas Sunan kalijaga Yogyakarta akhirnya iapun mau menemani diriku untuk berangkat ke Ponpes Gontor Ponorogo. dalam semalam ia kebut mengumpulkan semua berkas dan mendaftar online untuk mendapatkan Nomer Tes, kami berduapun berangkat kesana dengan banyak bertanya kepada orang – orang yang ditemui ketika naik bis. disana sempat menginap dua hari menunggu panggilan nomer urut tes yang sudah ditangan.

Bagiku kesempatan ikut tes pada waktu itu benar – benar bermodalkan nekat dan niat yang sangat besar bisa melanjutkan pendidikan di kota Nabi yang penuh dengan keberkahan Dari Allah ta’ala. keinginan yang sangat besar bisa menimba ilmu Agama langsung dari para Ulama besar di Islamic University Of Madina. Apalah daya ilmu bahasa Arabku bisa dibilang dibawah rata – rata yang hanya bisa untuk melakukan percakpan sehari hari saja, hapalan Al – Qur’an pun saat itu masih sangat minim dan itu belum termasuk hapalan yang bisa dikatakan Mutqin. entah mungkin kerana banyak melakukan dosa sehingga kejadian “cepat menghapal dan cepat lupa terjadi padaku waktu itu“.

Alhamdulillah, nomor urutkupun dipanggil juga, sempat merasakan keanehan pada kondisi badan saat menunggu nomer urut tes dipanggil, meriang terasa ingin demam dan tubuh bergetar. bismillah akupun datang menghadap Dosen dari Arab saudi yang menguji.. pertanyaan tidak banyak yang dilontarkan, hanya seputar berapa banyak hapalan dan disuruh membaca satu Surat, ditanyak seputar ulama hadist dan membacakan salah satu hadist yang dihapal, dan pertanyaan terakhir seputar empat imam mahzab serta menjelaskan sedikit tentang mereka…

Tes berlangsung sangat singkat, tidak sampai 30 menit sudah selesai, kemudian menyusul dipanggil nomer urut teman seperjuangan yang menemani perjalananku menuju Ponpes gontor. dia juga tidak mendapatkan banyak pertanyaan dan berlalau dengan begitu singkat. ternyata memang tes seperti itu tidak banyak pertanyaan yang diberikan.

***

proses pengujianpun selesai, karena bagi kami yang tidak mengikuti kelas Dauroh selama kurang lebih seminggu di suruh tes duluan baru kemudian menyusul teman – teman yang berangkat duluan dan sempat mengikuti dauroh. aku dan sahabtku pulang kembali kepondok pesantren asal. di tengah perjalanan pulang kadarullah, uangku habis, temanku tiba – tiba demam diperjalanan sampai muntah – muntah. wajahnya pucat pasi, dengan penuh perjuangan hanya mengandalkan kebaikan temanku yang mebayarkan ongkos penjalan dan dia harus berusaha melawan sakit diperjalanan sampai kami berdua tiba kembali di ponpes kami.

Impian Kuliah Di Kota Nabi Yang Belum Terwujud

Menunggu pengumuman hasil tes harus bersabar selama satu tahun penuh, dan apa yang terjadi setelah menunggu dengan sabar dan penuh harapan bisa lulus serta keterima, Kadarullah aku yang memaksa temanku untuk ikut menemaniku belum berhasil dan Allah belum berkendak aku bisa belajar di Kota Suci-NYA. Alhamdulillahnya… keajaiban Allah kembali muncul, temanku yang sebelumnya tidak berniat ikut justru berhasil lulus dan keterima masuk disana dengan mendapatkan beasiswa.

Alhamdulillah, bagiku itu semua adalah ketepan Allah yang terbaik atas diriku, Allah jauh lebih tahu mana yang terbaik untuk Hamba-NYA. Allah ingin aku banyak memperbaiki diri dan ingin agar diriku mengerti bahwa setiap jengkal tanah dibumi semuanya bisa menjadi lahan pendidikan untuk menuntut ilmu.

”Sejatinya Kita sangat Ingin Sekali, Tapi Allah berkata Tunggu dulu sampai kamu benar – benar pantas untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan”

Semoga suatu Saat nanti diberikan kesempatan untuk bisa berkunjung kesana kota Nabi yang Penuh Berkah, walau hanya sebatas menjadi tamu Allah Ta’ala, bila tidak diberi kesempatan untuk kuliah ataupun menimba ilmu disana. Aamiinn.

Baca Juga: Kisah Hari Raya Idul Fitri

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.